Media Kalsel news. com
Banjarmasin – Sebuah ritual adat Tampung Tawar atau Mapas Manyadingin (manganan sial kawe sapanulak belum), yang berarti mendinginkan suatu tragedi dan membuang sial dalam hidup, telah dilaksanakan di Kota Banjarmasin pada hari Senin, 11 Agustus 2025. Acara ini merupakan bagian dari budaya Dayak yang bertujuan untuk mencapai perundingan damai di antara pihak-pihak yang berselisih.
Acara kearifan lokal ini, yang selalu dijunjung tinggi oleh leluhur, diadakan di kediaman Almarhum Bapak Dehen MH, seorang sesepuh Dayak yang terletak di Jl. Gatot Subroto Gang Serai Banjarmasin. Ritual ini menjadi simbol pentingnya menjaga tradisi di tengah современный zaman.
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Banjarmasin, Jhon Fesser, membuka acara tersebut. Turut hadir Pengurus dan Anggota Aliansi Dayak Kalimantan Bersatu (ADKAB) serta para sesepuh dari kedua belah pihak yang terlibat konflik. Suasana khidmat terasa sepanjang acara, yang diisi dengan berbagai sesajen, mulai dari aneka kue hingga penyembelihan hewan sebagai bagian dari upacara adat.
Prosesi dimulai dengan pembacaan sesajen atau bemamang yang dipimpin oleh Basir Adat Dayak Ngaju, Deni Tewah. Lantunan doa dan mantra mengiringi setiap tahapan ritual, memohon kedamaian dan keberkahan bagi semua yang hadir.
Sekretaris Umum DAD Provinsi Kalimantan Selatan, Robby Ngaki, dalam sambutannya menekankan pentingnya melestarikan adat tradisi Dayak. “Ini adalah adat tradisi urang Dayak yang terus kita lestarikan. Dalam setiap permasalahan, baik kesalahan ucapan, perkataan, atau perilaku adu fisik yang sebenarnya tidak kita inginkan, maka kita adakan tampung tawar,” ujarnya.

Robby Ngaki juga berharap agar kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak. “Semoga dengan kejadian ini kita bisa belajar dan tidak akan terjadi lagi, sehingga kita bisa hidup rukun berdampingan. Dimana kaki berpijak disitu langit dijunjung,” pungkasnya, menggarisbawahi pentingnya menjaga harmoni dan menghormati adat istiadat setempat.
Acara Tampung Tawar ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal masih relevan dalam menyelesaikan konflik dan menjaga kedamaian di masyarakat. Diharapkan, tradisi ini terus dilestarikan dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.
@sik
MKn











