Mediakalselnews. com

Banjarbaru – Kasus dugaan bullying yang viral di Banjarbaru kini mulai memperlihatkan fakta lain yang berbeda dari narasi yang beredar di media sosial. Kuasa hukum SS dari Firma Hukum LUMINA, R. Rahmat Danur, menegaskan bahwa inti persoalan bukan sekadar konflik biasa antar pelajar, melainkan dugaan intimidasi terhadap anak di bawah umur yang disebut terjadi di jalan raya.

Menurut Rahmat, opini yang berkembang belakangan justru mulai mengaburkan substansi utama perkara dengan menyeret isu jabatan dan dugaan intervensi aparat penegak hukum.

“Jangan sampai masyarakat terkecoh dengan framing yang dibangun. Fokus utamanya adalah dugaan intimidasi terhadap anak, bukan status pekerjaan orang tua korban,” tegasnya.

Rahmat menjelaskan, kejadian bermula dari persoalan antar siswa di sekolah. Namun situasi berubah serius ketika anak korban yang pulang menggunakan ojek online diduga dibuntuti dan dipepet oleh sebuah mobil di jalan raya.

Mobil tersebut disebut berisi terlapor bersama istrinya sambil berteriak dengan nada tinggi ke arah korban dan pengemudi ojek online.

“Korban sampai menangis histeris karena ketakutan. Pengemudi ojol juga panik dan memilih masuk ke gang demi menghindari kemungkinan kecelakaan,” ungkapnya.

Keluarga korban kemudian melaporkan kejadian itu ke Polres Banjarbaru dengan dasar perlindungan anak.

Rahmat juga menepis keras tudingan adanya campur tangan aparat karena suami SS memiliki latar belakang sebagai penegak hukum.

“Tidak ada intervensi, tidak ada tekanan kepada penyidik, dan tidak ada penyalahgunaan jabatan. Semua berjalan sesuai mekanisme hukum,” katanya.

Menurutnya, tuduhan tersebut justru bertolak belakang dengan fakta bahwa perkara masih berjalan cukup panjang di tahap penyidikan.

“Kalau memang ada kekuasaan dipakai, tentu prosesnya bisa dipercepat. Faktanya sampai sekarang tetap berjalan normal,” ujarnya.

Ia menilai tindakan mengejar dan memepet kendaraan yang membawa anak di bawah umur bukan persoalan kecil karena sangat membahayakan keselamatan di jalan raya.

“Kalau terjadi senggolan sedikit saja, akibatnya bisa fatal. Itu yang membuat keluarga korban merasa perlu mencari perlindungan hukum,” tandasnya.

Di sisi lain, pihak SMP Muhammadiyah Banjarbaru juga memberikan klarifikasi atas viralnya dugaan bullying tersebut. Kepala sekolah Muhazir Fanani memastikan pihak sekolah telah melakukan langkah penanganan sejak awal persoalan muncul.

“Kami tidak membiarkan jika memang terjadi bullying. Penanganan sudah dilakukan melalui wali kelas, guru BK, hingga bidang kesiswaan,” jelasnya.

Meski begitu, pihak sekolah menegaskan dugaan insiden yang terjadi di luar lingkungan sekolah berada di luar kewenangan pihak sekolah.

Kasus ini kini terus menjadi perhatian publik karena dinilai menyangkut perlindungan anak serta keselamatan di ruang publik yang tidak bisa dianggap sepele.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.