Mediakalselnews. com

Banjar – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Lingkungan Hidup Provinsi setempat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 dan Penyerahan Bantuan Fasilitas Pengelolaan Sampah padaSabtu pagi (06/06/2026 ) di Kompleks Citraland Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar.

Peringatan dihadiri Gubernur Kalsel H Muhidin diwakili Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi Subhan Noor Yaumil dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalsel, Rahmat Prapto Udoyo dan segenap pejabat beserta karyawan di jajarannya.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup se Dunia ini diisi dengan aksi bersih-bersih atau korve secara serentak yang melibatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah kabupaten/kota, serta unsur terkait lainnya.

Dari kegiatan ini, terkumpul sekitar 129 karung sampah atau diperkirakan mencapai 2 ton sampah campuran.

“Sekitar dua ton sampah yang kita dapat hari ini. Sampahnya campuran, tetapi sampah plastik tidak terlalu banyak,” kata Subhan kepada wartawan.

Subhan Nur Yaumil mengatakan, aksi bersih bersih ini dimulai sejak sehari sebelumnya bersama instansi vertikal dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di kawasan Siring Sungai Martapura kilometer 0 Kota Banjarmasin yang dipimpin Kapolda diikuti jajarannya.

“Sejak kemarin kita sudah melakukan kegiatan bersih-bersih. Sungai kita bersihkan, kemudian jalan-jalan kita bersihkan,” ujar Subhan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Prov Kalsel, Kadis LH Kalsel Rahmat Prapto Udoyo menambahkan, upaya pengurangan sampah di daerah masih sejalan dengan program nasional, dengan menitikberatkan pada pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

“Pemprov Kalsel bersama pemerintah kabupaten dan kota terus berupaya melakukan pengurangan sampah. Seperti sebelumnya, pemilahan sampah tetap menjadi hal yang utama dalam pengelolaan sampah,” ujar Rahmat.

Kegiatan yang dilaksanakan merupakan aksi kolaboratif dengan Pemerintah Kabupaten Banjar dan Pemko Banjarmasin.

Kabupaten Banjar melaksanakan aksi bersih mulai dari kawasan Kilometer 7 hingga arah Kabupaten Banjar, sedangkan Kota Banjarmasin melaksanakan kegiatan serupa di wilayahnya masing-masing. Seluruh peserta kemudian berkumpul di titik pusat kegiatan yang telah ditentukan.

Pada kesempatan itu, Pemprov Kalsel juga menyerahkan bantuan sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah daerah yang memiliki kepedulian terhadap pengelolaan sampah. Untuk saat ini, bantuan diberikan kepada Pemerintah Kota Banjarmasin dan Pemerintah Kabupaten Banjar.

Menurut Subhan, pemberian bantuan kepada daerah lain akan disesuaikan kemampuan anggaran Pemprov Kalsel.

“Ke depan tidak menutup kemungkinan kabupaten dan kota lainnya juga akan kita berikan bantuan, tentu menyesuaikan dengan kemampuan anggaran yang ada,” ujarnya.

Dalam kegiatan, juga diikuti secara virtual atau daring, puncak peringatan secara nasional di Bupperta Cibubur, Jakarta Timur yang dipimpin langsung Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat.
Dalam kesempatan itu, Menteri LH Jumhur menyoroti masih tingginya persentase pengelolaan sampah yang belum optimal. Persoalan sampah menjadi bagian yang mempengaruhi perubahan iklim. Indonesia menghasilkan 51 juta ton sampah setiap tahun. Namun, 74% masih belum terkelola secara optimal.

Jumhur menjelaskan, pengelolaan sampah saat ini masih banyak dilakukan secara tercampur. Kemudian sejauh ini, kata dia, metode open dumping masih terus dilakukan meski dinilai tak maksimal.
“Sebagian besar bercampur dan berakhir di TPA yang menggunakan metode open dumping. Praktik ini hanya menimbulkan masalah kebersihan. Tidak hanya menimbulkan masalah kebersihan, tetapi juga penyebaran lingkungan, gas metan, dan ancaman terhadap kesehatan, kualitas hidup, dan keberlanjutan,” ungkap Jumhur.
Di sisi lain, Jumhur juga menyampaikan terkait kondisi tempat pembuangan akhir yang telah kelebihan beban hampir di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia. Kondisi ini, kata Jumhur, diawali dari kebiasaan kumpul, angkut, buang sehingga sampah tidak terpilah, pengolahan lahan uruk terbuka, gas metan tidak ditangkap, dan tidak dimanfaatkan.

“Kondisi ini menyebabkan darurat sampah. TPA overload, dan TPA menjadi sumber emisi terbesar dari sektor persampahan di Indonesia,” tuturnya. (sal/adpim)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.