Mediakalselnews. com
TANAH BUMBU, 15 Januari 2026 — PT Hutan Rindang Banua (HRB) memasuki tahap krusial pengembangan kawasan konservasi keanekaragaman hayati yang strategis di Desa Guntung, Kecamatan Teluk Kepayang, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Langkah ini tidak hanya menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan di wilayah konsesinya, namun juga dirancang sebagai pusat pengelolaan ekosistem berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi.

Direktur PT HRB, Nurhadi Purwanto, mengungkapkan bahwa pengembangan kawasan konservasi tersebut dimulai dengan serangkaian kegiatan inventarisasi dan identifikasi kondisi lingkungan secara menyeluruh, mulai dari komposisi flora hingga keberadaan fauna yang ada di kawasan hutan alami tersebut. Kegiatan lapangan dilakukan secara langsung pada Rabu (14/1/2026), di mana tim perusahaan melakukan survei mendalam dengan berjalan kaki sejauhan beberapa kilometer untuk mengamati vegetasi, satwa liar, serta fitur geografis lainnya.

“Hari ini kami telah melakukan pemetaan awal di area yang akan menjadi kawasan konservasi HRB. Selama survei, kami menemukan potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa, termasuk koloni kelelawar yang cukup besar, burung anggang, serta berbagai jenis burung dilindungi lainnya yang masih hidup dalam ekosistem yang relatif terjaga,” ujar Nurhadi kepada awak media yang mengikuti kegiatan lapangan.

Selain itu, tim juga menemukan air terjun dengan kualitas air yang sangat jernih dan sejumlah gua alami yang saling terhubung, yang menjadi potensi tambahan dalam pengembangan kawasan di masa depan. Suara burung dan satwa liar yang terdengar secara jelas selama perjalanan menjadi bukti bahwa ekosistem di lokasi tersebut masih dalam kondisi baik dan layak untuk dilindungi.

Rencana Pengembangan Berkelanjutan dan Kolaborasi

Ke depan, HRB berencana menjalin kerja sama erat dengan institusi kehutanan serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan untuk memastikan pengelolaan kawasan konservasi dilakukan sesuai standar nasional dan dapat berjalan secara berkelanjutan. Kawasan ini juga akan berfungsi sebagai area perlindungan sekaligus zona penyangga (buffer zone) yang akan mengurangi dampak aktivitas operasional perusahaan terhadap lingkungan sekitar.

“Kami yakin program konservasi ini tidak hanya memberikan manfaat ekologis, namun juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dan membuka peluang ekonomi baru yang ramah lingkungan,” tambah Nurhadi.

Sementara itu, Department Head Operational PT HRB, Aris Kiswanto, menjelaskan bahwa Site Teluk Kepayang telah menjadi fokus perhatian perusahaan sejak tahun 2022, ketika HRB mulai aktif melakukan penanaman pohon secara masif di Desa Guntung. Seiring dengan transformasi bisnis yang tengah berlangsung, perusahaan juga sedang mempersiapkan pengembangan bisnis perdagangan karbon (carbon trade), di mana kondisi topografi, tutupan lahan, dan potensi keanekaragaman hayati di kawasan tersebut menjadi modal utama dalam mendukung upaya pengayaan biodiversitas dan perlindungan flora serta fauna endemik Kalimantan.

“Selain sebagai kawasan konservasi, lokasi ini juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata yang edukatif. Kami berencana melibatkan masyarakat sekitar secara penuh dalam pengelolaannya, mulai dari pemeliharaan kawasan hingga menjadi bagian dari tenaga kerja di sektor pariwisata berkelanjutan,” ujar Aris.

Rencana pengembangan ekowisata mencakup konsep glamping yang ramah lingkungan,

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.