MediakalselNews. com

BANJARBARU – Menjelang akhir Oktober 2026, dua kegiatan diskusi budaya digelar dalam satu pekan. Keduanya membahas pelestarian kearifan lokal Banjar dan peningkatan layanan museum bagi masyarakat.

Kegiatan pertama, Diskusi Bedah Buku Dokumentasi Pengetahuan Maestro Kalang Hadangan, berlangsung pada Minggu, 25 Oktober 2026, di Tomoro Coffee Banjarbaru. Buku ini merekam secara visual dan tertulis pengetahuan para maestro dalam membudidayakan kerbau rawa (kalang hadangan). Pengetahuan tersebut menggambarkan kearifan masyarakat Banjar yang hidup di rawa, yang selama ratusan tahun mampu beradaptasi dengan alam dan menjadikannya sumber ekonomi.

Hamparan rawa di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Hulu Sungai Utara menjadi sentra peternakan kerbau rawa. Desa Paminggir dan Bararawa, Kecamatan Danau Panggang, merupakan pusat utamanya. Selain beternak, masyarakat memanfaatkan sumber daya air dan rawa untuk budidaya dan penangkapan ikan air tawar, serta menganyam tikar dari purun, tanaman endemik hutan rawa gambut, untuk keperluan rumah tangga.

Tradisi lokal ini sangat berharga untuk terus dilestarikan, karena itu dokumentasi ini diharapkan menjadi referensi kultural. Menguatkan ekosistem dan memajukan unsur budaya lokal Kalimantan Selatan. Kegiatan dihadiri anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Utara, dinas dan instansi terkait, akademisi, praktisi budaya, komunitas, serta generasi muda dan mahasiswa.

Kegiatan kedua, Focus Group Discussion (FGD) Kajian Pengunjung dan Program Museum, digelar pada Selasa, 27 Oktober 2026, di Auditorium Museum Lambung Mangkurat. Forum ini menghimpun aspirasi berbagai unsur masyarakat untuk meningkatkan layanan publik museum kepada pengunjung.

Dua akademisi tampil sebagai pembicara utama, yaitu Prof. H. Zulfa Jamalie, S.Ag., M.Pd., Ph.D. dari UIN Antasari dan Drs. H. Setia Budhi, M.Si., Ph.D. dari Universitas Lambung Mangkurat. Keduanya mengapresiasi keterbukaan museum dalam mendengarkan kebutuhan masyarakat dan berharap museum dapat berkontribusi besar bagi pembangunan kebudayaan di Kalimantan Selatan.

Dari sisi pemerhati dan praktisi budaya, Dr. Hajriansyah dan H. E. Benyamin menyoroti besarnya potensi Museum Lambung Mangkurat yang tidak dimiliki museum lain di Indonesia. Salah satunya koleksi karya Sholihin, maestro lukis Kalimantan Selatan berkaliber nasional, yang lebih dari 127 karyanya tersimpan di museum ini.

Kedua kegiatan dipandu Darmanto, S.AP., M.Hum., Pamong Budaya Museum yang juga mahasiswa program Doktor Studi Islam (S3) UIN Antasari, sebagai pemimpin diskusi. Darmanto mengaharapkan dari rangkaian kegiatan diskusi akhir Okrober 2026 yang telah di laksanakan, menegaskan komitmen bersama bagi kita sebagai pewaris budaya untuk tidak hanya menjaga dan merawat, tetapi juga mendokumentasikan pengetahuan budaya. Dengan memperluas keterlibatan masyarakat, dalam pengembangan dan pelestarian budaya kemajuan Kalimantan Selatan.

 

red

@sik

By admin